Jumat, 17 Agustus 2012

Hubungan Bom Atom Hiroshima-Nagasaki dan Kekalahan Jepang


Salah satu kontroversi terbesar abad 20 adalah bom atom Hiroshima-Nagasaki. Apakah keputusan menjatuhkan bom atom tsb adalah keputusan yang benar?

Jawaban singkatnya: keputusan pahit tapi yang terbaik.

Mari kita pikirkan alternatif-alternatifnyanya bila bom atom tak dijatuhkan.

Skenario 1, Jepang baru menyerah setelah Uni Soviet Menyerang:
Skenario pertama adalah skenario favoritnya Tsuyoshi Hasegawa. Menurut sejarawan Jepang ini, penyebab utama menyerahnya Jepang adalah serangan Uni Soviet. Beliau merasa, pemimpin² Jepang benar² merasa Uni Soviet bisa menjadi penengah dengan negara² sekutu lain, memungkinkan mereka mendapatkan perjanjian damai yang jauh lebih menguntungkan. Karena itulah mereka menolak menyerah, dan bom atompun dianggap kurang relevan. Karena itulah Hasegawa yakin pemimpin² Jepang baru kehilangan harapan dan memohon damai ketika "sang penengah" malah menyerang mereka. 

Anggaplah Hasegawa benar dan Jepang menyerah murni karena invasi Soviet, tanpa dijatuhkannya bom atom. Tanggal menyerahnya Jepang takkan sama. Suka tak suka, bom atom mempercepat menyerahnya Jepang. Ditundanya tanggal menyerah Jepang akan berakibat hebat sekali.

1) Jutaan orang akan mati. Ingat, pendudukan Jepang di Indonesia, Malaya, Cina, dll bukan pendudukan baik². Laksaan manusia tewas setiap harinya, jadi rasanya tak berlebihan menebak jutaan orang non-Jepang akan mati akibat kekejaman pasukan Jepang di koloni²nya, di jeda di antara 15 Agustus (Tanggal menyerahnya Jepang setelah dibom atom dan diserbu Uni Soviet) dan tanggal menyerahnya Jepang.

2) Uni Soviet sangat mungkin bukan cuma merebut Manchuria, Korea Utara, dan kepulauan Kuril, tapi juga Korea Selatan dan Hokkaido. Ini artinya tidak akan ada Korea Selatan, cuma ada Korea Utara yang meliputi Korea Selatan juga, dan akan ada "Republik Demokrasi Jepang" yang berkedudukan di Hokkaido. Mungkin saja kota Tokyo jadi akan terbagi 2 juga seperti kota Berlin pasca menyerahnya Jerman.

Tak begitu baguskan dibandingkan kenyataan? Jangan kawatir, ini baru skenario pertama ...


Skenario 2, Jepang menyerah setelah operasi Olympic dan Coronet
Di skenario kedua ini, Amerika Serikat dan sekutu²nya menginvasi Jepang dalam 2 operasi: Olympic (Merebut Kyushu) dan Coronet (Merebut Honshu) sementara saya asumsikan Hokkaido direbut Uni Soviet secara terpisah.

Ini artinya 2 akibat negatif skenario #1 terjadi, DITAMBAH korban jiwa akibat invasi. Ketika pihak Amerika Serikat memperhitungkan korban yg akan jatuh dalam operasi ini, mereka memperhitungkan mereka akan kehilangan 1 juta manusia. Perlu ditegaskan, 1 juta ini adalah korban di pihak sekutu saja. Pihak Jepang sendiri sudah memobilisasi SEMUA penduduknya. Anak² mereka saja diajari menggunakan bambu runcing menusuk perut tentara² sekutu yang mendarat di Jepang. Menghadapi perang total macam ini, tak berlebihan kalau saya bilang korban totalnya puluhan juta jiwa.


Skenario 3, Jepang menyerah tanpa operasi Olympic dan Coronet, tanpa invasi Soviet
Apa yang terjadi seandainya Jepang menyerah tanpa invasi sama sekali?  Jepang mustahil menyerah begitu saja cuma karena kehilangan Okinawa, Mariana, Filipina, Irian, dan Pasifik Tengah. Satu²nya cara membuat Jepang menyerah adalah dengan meneruskan bombardemen udara & laut, sambil memblokadenya, memastikan tak ada bahan mentah atau makanan yang memasuki tanah air Jepang.

Skenario ini berarti tanggal menyerahnya Jepang MUNDUR lagi. Korban di kalangan sekutu bisa diminimalisir, tapi korban sipil Jepang akan terus berjatuhan. Seperti kota² yang dikepung, pulau² Jepang akan dilanda kelaparan, penyakit, dll. Entah butuh waktu berapa lama sampai Jepang benar² menyerah. Artinya, korban jiwa di pulau² Jepang dan koloni² Jepang akan bertambah lagi. 


Sudah jelaskan, skenario apapun yang terjadi tidak terlihat bagus.

Bom atom Hiroshima-Nagasaki sudah pasti membunuh ribuan penduduk 2 kota itu, tapi di saat yang sama menghindari jutaan korban akibat 3 skenario di atas. Jangan salahkan presiden Truman menjatuhkan bom tsb, salahkan petinggi² Jepang yang terobsesi pada Bushido, pada "Kehormatan" pada prinsip "lebih baik mati daripada menyerah!" Seandainya pemerintah Jepang memang rasional, memang perduli pada nasib rakyatnya, mereka sudah menyerah paling lambat saat Filipina jatuh, saat mereka kehilangan akses ke ladang² minyak di Kalimantan, sementara kapal² terbang Amerika dari Mariana membombardir Jepang.

Selasa, 14 Agustus 2012

Kisah Penciptaan Adam



Untuk menciptakan manusia, Tuhan memberi perintah kepada Malaikat Jibril:
"Bawakanlah segumpal tanah sebagai pinjaman."

Malaikat Jibril turun ke bumi untuk menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Baru mau mengambil tanah, bumi menarik diri. Dia merintih:
"Jangan malaikat. Demi Allah, janganlah mengambil tanah ini. Engkau tahu persis apa yang akan terjadi setelah manusia tercipta. Bersama dia, aku pun akan terseret ke dalam bahaya dan bencana. Atas Nama Allah, lindungilah diriku dari marabahaya."

Malaikat Jibril yang berhati lembut menyalami dia dan kembali menghadap Tuhan:
"Ya Allah, Ya Rabb, Engkau Maha Tahu dan tahu persis bahwa aku sudah berupaya, tetapi rintihan bumi membuat aku tak berdaya, karena dia menggunakan Nama-Mu. Demi Nama-Mu yang kusucikan, dia memohon perlindungan."

Maka Tuhan mengutus Malaikat Mikail, "Pergilah dan ambillah segumpal tanah."
Dan dia pun tidak berhasil. Begitu juga malaikat Israfil yang diutus setelah Mikail. Dia malah mengeluh,
"Ya Allah, Ya Rabb, Engkau memberi perintah untuk mengambil segumpal tanah, tetapi bersama itu. Engkau juga memberiku hati yang sangat lembut. Itu sebabnya, aku tak berdaya. Tidak bisa mengambil tanah secara paksa."

Terakhir, Tuhan mengutus Izrail:
"Lihatlah, dunia itu hanya sebuah khayalan. Bawakan segumpal tanah dari sana."

Seperti biasa, bumi merintih lagi,
"Jangan Malaikat, janganlah membahayakan keberadaanku. Atas Nama Allah, aku mohon perlindungan."

Izrail menjawab, "Rintihanmu, ratapanmu takkan berhasil menggoyahkan imanku terhadap Perintah-Nya."

"Bukankah Dia pula yang memberi perintah agar kita menahan diri dan saling mengasihi?", kata bumi.

"Engkau sedang menafsirkan perintah Allah, sementara aku sedang berupaya untuk menjalaninya. Aku melihat kasih dibalik kekerasan. Aku melihat permata tertutup oleh tanah.
Janganlah engkau menyangsikan Kebijakan Tuhan. Jangan ragu-ragu, jangan bimbang. Jalani perintah-Nya dengan penuh kepasrahan, keikhlasan.
Jangan pula mengharapkan apa-apa dari diriku. Aku hanya menjalani perintah-Nya. Itu saja. Tak ada suara lain yang kudengarkan kecuali suara-Nya.
Aku bagaikan pedang di tangan-Nya untuk apa memohon perlindungan dariku? Permohonanmu salah alamat. Bermohonlah kepada Dia yang memegang aku. Bila Dia menghendaki, pedang yang membunuh bisa berubah menjadi cawan berisikan air kehidupan."

Kemudian tanpa basa-basi lagi Izrail mengambil segumpal tanah dari bumi untuk diserahkan kepada Dia Yang Mengutusnya.

"Izrail, engkau Kuangkat sebagai Malaikat Pencabut Nyawa," demikian sabda Tuhan.

"Biarlah kehendak-Mu yang terjadi... Tetapi bila aku diberi tugas mencabut nyawa, aku sudah pasti dibenci," protes Izrail sungguh halus. Tetapi protes tetaplah protes.

"Mereka tidak akan melihat tanganmu. Yang terlihat adalah penyakit, kecelakaan, dan bencana alam. Dan mereka pikir ketiga hal itu yang menyebabkan kematian," tambah Tuhan.

"Tetapi di antara mereka sudah pasti ada yang melihat sebab di balik akibat. Tangan-Ku, peran-Ku akan terlihat jelas."

Tuhan menjawab:
"Mereka yang sudah bisa melhhat Sebab Utama dibalik segala sebab tidak akan mempersoalkan akibat.
Bagi mereka kematian tidak lagi sepahit racun. Bagi mereka kematian tmenjadi manis---semanis madu, karena mereka sadar bahwa lewat kematianlah mereka memperoleh kebebasan dari penjara dunia. Kemudian kematian pula menjadi gerbang masuk Taman Kehidupan Abadi yang Indah.
Mereka sadar bahwa yang mati hanyalah badan. Jiwa hidup abadi. Oleh karena itu, tidak perlu menghawatirkan mereka yang mati dengan penuh kesadaran. Kendati melihat peranmu, mereka tidak akan pernah mengeluh. Apalagi membenci kamu..."

"Betapa indahnya hidup ini, bila tidak ada kematian."

"Hidup ini tidak akan berarti sama sekali, jika tidak ada kematian. Terjemahanmu salah, tafsiranmu keliru. Yang engkau anggap kehidupan, sesungguhnya tanah kering kematian. Selama ini engkau menanam di atas lahan yang tidak subur itu."

-¤( Matsnawi, Syaikh Jalaluddin Rumi )¤-